1. LEGENDA DESA
Desa Delegtukang, yang juga dikenal dengan sebutan
“Pengkol,” memiliki sejarah yang sarat makna dan penuh nilai filosofi. Nama
“Pengkol” diyakini berasal dari kondisi geografis desa yang memiliki jalan
utama berkelok atau “mengkol” — melambangkan jalan hidup yang tidak selalu
lurus, namun tetap dilalui dengan semangat dan keteguhan.
Sementara itu, nama “Delegtukang” memiliki dua versi asal-usul yang terus hidup dalam ingatan masyarakat. Versi pertama menceritakan tentang kemunculan seekor ikan deleg (ikan gabus) secara misterius di perairan desa. Beberapa warga menyaksikan kemunculan ikan tersebut di waktu-waktu tertentu, dan percaya bahwa ikan deleg itu adalah isyarat gaib atau tanda dari alam. Kemunculan ini dianggap membawa pesan, seolah menjadi penegas identitas desa. Dalam versi ini, kata “deleg” mengacu pada ikan tersebut, sementara “tukang” menggambarkan keahlian masyarakat desa yang dikenal piawai dalam bidang pertukangan. Kombinasi keduanya menjadi “Delegtukang” — sebuah nama yang mencerminkan ciri alam dan keterampilan warganya.
Versi kedua berasal dari legenda yang diwariskan turun-temurun,
tentang seorang tukang pendiam yang mengikuti sayembara kerajaan untuk
memperbaiki soko guru (tiang utama) pendopo seorang ratu.
Menurut cerita rakyat, pada zaman dahulu kala, Ratu Helmina, seorang ratu yang dikenal bijaksana dan adil, memiliki sebuah pendopo yang menjadi simbol kekuatan dan kebesaran kerajaannya. Namun, pendopo itu mengalami kerusakan pada soko guru, tiang penyangga utama yang menjadi bagian terpenting dari bangunan tersebut. Ratu Helmina mengadakan sayembara, mengundang para tukang terbaik dari berbagai penjuru kerajaan untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
Sayembara ini tidak hanya menjadi ajang untuk
menguji keterampilan para tukang, tetapi juga untuk menguji kesabaran dan
ketekunan mereka. Setiap tukang yang mengikuti sayembara tersebut diberikan
waktu tertentu untuk menyelesaikan tugas mereka, namun tidak ada yang berhasil.
Pendopo itu tetap tidak dapat diperbaiki dengan sempurna, meskipun sudah banyak
tukang yang berusaha.
Hingga datanglah dua tukang dari suatu daerah. Salah
satu tukang berbeda dari para tukang lainnya, ia tak banyak bicara, tidak
menyombongkan diri, dan bekerja dalam diam. Warga menyebut sikapnya dengan
istilah Jawa “deleleg”: diam, tenang, penuh perhitungan. Tukang ini tidak
menjelaskan panjang lebar tentang keahliannya, namun hasil pekerjaannya luar
biasa. Ia berhasil memperbaiki soko guru dengan cara yang rapi, kokoh, dan
indah. Karena keahliannya itu, pendopo kembali berdiri tegak dan ratu sangat
terkesan.
Dari sinilah kemudian tempat asal sang tukang mulai
dikenal dengan nama “Delegtukang” merujuk pada tukang yang “deleleg” (pendiam)
namun sangat terampil. Nama itu menjadi simbol kebijaksanaan dan ketekunan:
bahwa diam bukan berarti tidak mampu, justru sering kali menyimpan kekuatan dan
keahlian yang besar.
Nama Desa Delegtukang, yang merupakan percampuran antara ketahanan alam
dan kearifan lokal, menjadi simbol kekuatan kolektif dan keahlian yang dimiliki
oleh masyarakat desa. Hal ini menggambarkan nilai-nilai yang sangat penting
dalam kehidupan masyarakat, seperti semangat untuk bertahan hidup, beradaptasi
dengan alam, serta mengembangkan keahlian dalam berbagai bidang.
Desa Delegtukang sudah berdiri sejak zaman penjajahan hindia belanda
sekitar tahun 1930-an yg mana pemimpin desa saat itu dikenal dengan nama bolos
dikarenakan ketika menjabat beliau pergi meninggalkan desa dan mengundurkan
diri sebelum masa jabatanya berakhir sehingga masyakat menyebutnya bolos atau keluar
dengan sengaja dari jabatanya. Pada waktu itu pusat pemerintahan desa (kantor
balaidesa) yang digunakan sebagai tempat
perkumpulan warga dan tempat mediasi untuk menyelesaikan perkara masi bertempat
dirumah kepala desa yang menjabat hingga akhirnya sekitar tahun 1970-an pada
era kepemimpinan pak gering mulai dibangun aula balaidesa.
CATATAN PEMIMPIN DESA DELEGTUKANG
| NO | NAMA PEMIMPIN | PERIODE |
|---|---|---|
| 1 | Bolos | 1930 – 1935 |
| 2 | Rabun | 1935 – 1961 |
| 3 | Gering / Dasman | 1961 – 1981 |
| 4 | Zubaedi | 1981 – 1991 |
| 5 | Dulbari | 1991 – 2007 |
| 6 | Suhadi | 2007 – 2013 |
| 7 | Endang Mulyo | 2013 – 2019 |
| 8 | Muh. Hufron Faza | 2019 – 2027 |

Comments
Post a Comment